Perpustakaan MAN 1 Boyolali

Jl. Kates, Koplak, Siswodipuran, Kec. Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57316

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Cerpen LBB 2025 (3) : Pelajaran Maaf dari Masa Depan


Pelajaran Maaf dari Masa Depan 

Oleh : Aufi Khasanah

Lily adalah seorang gadis yang percaya bahwa kebaikan dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Suatu hari ia berkunjung ke rumah neneknya yang berada di ujung kota. Ini merupakan kunjungan pertama kali dikarenakan jarak rumahnya yang sangat jauh sehingga ia baru bisa berkunjung di waktu liburan tiba. Ia sangat bersemangat saat kedua orang tuanya memberitahu bahwa liburan kali ini, mereka bisa mengunjungi rumah nenek Sari. Perjalanan yang sangat jauh membuat mereka semua kelelahan. Tetapi rasa Lelah tersebut sirna ketika Lily dan keluarganya menerima sambutan hangat dari sang nenek.

Mata Lily berbinar, terpesona melihat rumah kayu tua yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita sang ayah. Rumah itu berdiri kokoh di tengah kebun yang asri, dipagari tanaman rambat serta bunga-bunga yang berwarna merah muda dan ungu. Nenek Sari menyambut mereka dengan mengenakan pakaian kebaya yang sederhana namun terlihat sangat anggun.

“Hai, nenek!” Sapa Lily dengan semangat ketika ia melihat sang nenek sudah menunggu kedatangan mereka di depan pintu.

Nenek Sari yang mendengar sapaan itu mulai berjalan menghampiri Lily dan memberikannya sebuah pelukan hangat, “Aduhh.. cantik sekali cucuku. Ayo, masuk, Nak! Nenek sudah menyiapkan makanan untuk kalian.” Ucap Nenek Sari sembari melepas pelukan itu dan dibalas dengan anggukan oleh Lily.

Lily menarik napas dalam-dalam, menikmati udara pedesaan yang sangat segar. Setelah masuk ke dalam rumah, rumah kayu itu terasa sejuk dan damai. Koleksi lama dan buku-buku tebal yang sudah berdebu namun masih tertata rapi di rak kayu itu menarik perhatian Lily. Namun, perhatiannya teralihkan pada hidangan yang sudah tersaji di meja makan. Lalu, Lily. Keluarganya, dan Nenek Sari mulai memakan hidangan tersebut sambil bercerita tentang kebiasaan yang Nenek Sari lakukan di desa.

Selesai menghabiskan hidangan tersebut, Nenek Sari mengajak Lily untuk berkeliling rumah dan memperkenalkan setiap sudut rumah kepada Lily. Lily sangat antusias mendengarkan penjelasan mengenai setiap ruangan. Di tengah kegiatan mereka, ada satu ruangan yang tidak nenek jelaskan kepada Lily, hal itu membuat Lily penasaran dan bertanya kepada nenek.

“Itu ruangan apa ya, Nek?” Tanya Lily heran.

“Itu cuma gudang biasa, kamu ngga perlu kesana.” Jawab nenek dengan santai agar tidak membuat sang cucu curiga. Lily mengangguk setelah mendengarkan jawaban dari nenek, tetapi ia justru semakin penasaran.

Setelah pembicaraan tersebut, nenek berpamitan keluar untuk mengurusi suatu hal. Sepeninggal neneknya, Lily terus memandangi pintu ruangan tersebut. Ia melangkah perlahan mendekati pintu. Namun, baru saja tangannya menyentuh knop pintu, sang ibu tiba-tiba berteriak memanggilnya. Ia pun mengurungkan niatnya dan menghampiri sang ibu.

“Ada apa, bu?”

“Nak, ibu minta maaf ya sebelumnya.”

“Kenapa kok ibu minta maaf?”

“Ibu sama Ayah tidak bisa menemani kamu liburan disini. Kami harus pulang ke kota karena ada suatu hal yang harus kami selesaikan. Kamu gapapa kan disini berdua sama nenek? Jika urusannya sudah selesai, ibu akan kesini untuk menjemputmu.”

“Baik, bu. Ibu tenang saja, aku akan baik-baik disini bersama nenek.”

“Selama Ibu dan Ayah ngga disini, kamu harus nurut sama nenek dan jangan nakal ya!” Ucap sang Ibu.

“Baik, ibu.”

“Udah kamu tenang aja, anakmu akan aman disini.” Ucap nenek yang baru saja datang yang kemudian di balas senyuman oleh sang ibu.

“Bukan begitu, bu. Aku hanya ingin Lily bersikap baik disini dan tidak melanggar sesuatu yang sudah di tetapkan.” Balas sang ibu.

“Jangan terlalu banyak berpikiran yang buruk kepada anakmu. Semua akan baik-baik saja.”

“Benar kata ibu kamu, kita tidak perlu mencemaskan hal yang tidak pasti terjadi. Sebaiknya kita sekarang segera siap-siap agar tidak terlalu malam saat sampai di kota.” Sang ayah menyaut pembicaraan tersebut.

Setelah pembicaraan tersebut, ibu dan ayah Lily segera berkemas-kemas lalu berpamitan kepada nenek dan juga Lily. Mereka berdua mengantarkan ayah dan ibu Lily sampai kedepan rumah, kemudian Lily memeluk kedua orang tuanya sebelum masuk ke mobil. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah nenek

Malam pun tiba..

Nenek mengajak Lily untuk makan malam, mereka menyantap makanannya sembari bercerita tentang adat istiadat yang ada di desa neneknya. Selesai makan malam, nenek mengajak Lily untuk beristirahat karena Lily baru saja melakukan perjalanan jauh. Tetapi Lily beralasan untuk menonton TV terlebih dahulu sementara nenek langsung masuk ke kamar.

Lily yang mengetahui sang nenek sudah masuk ke kamar bergegas menyalakan TV. Di tengah keasikannya saat menonton TV, ia teringat perkataan neneknya tadi siang dan ia pun beranjak untuk mendekati ruangan tersebut. Rasa penasarannya semakin tinggi ketika ia mendengar samar-samar suara dari ruangan. Namun, ketika baru saja sampai di depan pintu, sang nenek tiba-tiba memanggilnya.

“Sedang apa kamu, nak?” Selidik nenek penuh curiga.

“Tadi aku mendengar suara gaduh dari dalam.” Jawab Lily dengan gelagapan.

“Paling itu hanya suara tikus. Ini sudah malam saatnya tidur.” Ajak sang nenek dan diberi anggukan oleh Lily.

Lily pun masuk ke kamar yang sudah di siapkan oleh neneknya.

Pagi harinya..

Lily di bangunkan oleh suara ayam di pagi hari, kemudian ia menuju ke dapur dan terlihat neneknya sedang memasak sarapan. Ia berniat untuk membantu neneknya memasak, namun nenek melarangnya. Nenek menyuruhnya untuk menyirami tanaman dan berpesan bahwa ia akan memanggil Lily jika sarapannya sudah siap. Lily pun menuruti perintah nenek.

Tak lama berselang, ia dipanggil nenek untuk sarapan. Saat sedang sarapan, nenek memberitahu Lily bahwa ia harus mengikuti acara yang di selenggarakan di balai desa. Nenek pun menawarinya untuk ikut, tetapi Lily menolak dan beralasan ingin kembali beristirahat karena semalam ia tidak bisa tidur. Dan nenek pun mengiyakan jawaban Lily.

Selesai makan, nenek berpamitan untuk berangkat. Setelah sang nenek pergi, ia teringat akan ruangan kemarin yang belum sempat ia buka. Karena ia sendirian di rumah, ini adalah kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.

Ssesampainya di depan pintu ruangan itu, ia memberanikan diri untuk membuka dan masuk kedalamnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang ada di hadapannya sekarang karena sangat berbeda dengan apa yang di katakana oleh sang nenek. Tempat ini bukan gudang biasa, melainkan terdapat lemari tua. Ia penasaran, lalu ia membuka lemari tersebut dan makin di kejutkan karena isi lemari tersebut adalah lorong panjang yang tidak tahu dimana ujungnya. Tiba-tiba ia tertarik ke dalam seperti ada yang menariknya untuk masuk.

Lily terpental ke desa yang asing bagi dirinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan disana, akhirnya ia memilih untuk berjalan menyusuri desa tersebut. Lalu ia mulai berjalan menelusuri desa tersebut, suara gaduh membuatnya berhenti melangkah dan mencari sumber suara tersebut.

Ternyata suara tersebut berasal dari anak dan ibu yang sedang bertengkar. Ia memperhatikan dengan seksama, hingga akhirnya anak tersebut berlari meninggalkan ibunya sendirian. Lily mengikuti kemana perginya anak tersebut. Anak tersebut berhenti di bawah pohon, ia terkejut melihat anak itu menangis. Lily pun memutuskan untuk mendekatinya dan bertanya mengenai keadaannya.

“Halo? Ada apa denganmu?” Sapa Lily dan langsung bertanya.

“Kamu siapa? Gausah mendekat.” Tolak anak tersebut.

“Kenapa? Aku ga jahat kok.’ Jelas Lily, lalu anak itu hanya diam. Lily pun duduk di sampingnya. “Nama kamu siapa?”

“Aku Sari.” Jawaban dari anak itu membuat Lily terdiam dan ia mulai menyadari bahwa ia masuk ke masa kecil neneknya, namun memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

“Oke, Sari. Salam kenal,ya. Aku Lily.” Ucap Lily sambal tersenyum. “Kamu kenapa kok disini sendirian? Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Tidak ada, kamu tidak perlu tau.”

“Tapi kamu terlihat memendam sesuatu.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

Tidak apa-apa, cerita saja. Siapa tahu aku bisa membantumu.” Ucap Lily meyakinkan.

Sari menatap raut Lily sebentar dan mulai bercerita. “Ibuku selalu memarahiku tanpa alasan yang jelas.”

“Tidak mungkin ibumu memarahimu tanpa alasan yang jelas, pasti kamu melakukan suatu kesalahan. Coba kamu ingat-ingat.”

“Seingatku, aku tadi dilarang untuk bermain karena sudah sore tapi aku mengelak.”

Lily mengangguk paham, “Kamu tahu kan kalo sudah sore? Ibumu melarangmu pasti demi kebaikan kamu. Ayo, aku antarkan kamu ke rumahmu untuk meminta maaf kepada ibumu.” Ucap Lily sambil menepuk pelan pundak Sari.

“Tapi.. aku takut ibu tidak memaafkanku.”

“Percaya sama aku. Aku tahu, dia akan memaafkanmu. Jika kamu tidak melakukannya sekarang, kamu akan menyesal nantinya.” Ucap Lily sembari bangkit dari duduknya dan menggandeng Sari agar ikut berdiri.

Mereka berjalan beriringan sepanjang jalan. Sesampainya mereka di rumah Sari, Sari langsung berlari memeluk ibunya yang sedang menyapu di halaman rumah.

“Ibu.. aku minta maaf. Ngga seharusnya aku membentak ibu seperti tadi dan seharusnya aku mengikuti kata ibu demi kebaikanku sendiri.” Ucap Sari sambil menangis sesegukan.

“Ibu juga minta maaf ya, nak. Ibu terlalu keras kepadamu.” Jawab Ibu sembari mengelus punggung Sari.

Lily yang melihat pemandangan itupun tersenyum dan berkata, “Akhirnya mereka baikan.” Lalu tanpa mereka berdua sadari, Lily sudah Kembali tertarik ke masa depan.

Lily membuka matanya lalu melihat ke sekelilingnya, ia menyadari bahwa ia telah kembali ke ruangan tersebut. Samar-samar ia mendengar suara nenek yang memanggil namanya. Ia pun keluar dari ruangan tersebut berpapasan dengan nenek yang sedang mengelilingi rumah untuk mencari Lily.

“Loh, nak. Kenapa kamu bisa masuk ke ruangan itu? Bukannya nenek sudah melarang kamu dari awal?” Tanya nenek,

“Maafkan aku, nek. Aku hanya penasaran apa isi ruangan ini.”

“Yaudah gapapa, tapi kamu baik-baik aja kan?”

“Aku baik-baik aja kok, nek” Nenek pun tersenyum dan mengajak Lily untuk beristirahat.

TAMAT.

Keterangan :

Cerpen ini dinobatkan sebagai Karya Juara Ketiga Lomba Literasi Bulan Bahasa 2025, yang diselenggarakan oleh MAN 1 Boyolali Tahun Ajaran 2025 - 2026

Perpustakaan MAN 1 Boyolali
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan MAN 1 Boyolali adalah perpustakaan sekolah, yang menerapkan konsep sistem layanan terbuka, sehingga memungkinkan pemustaka bebas mencari dan memilih sendiri judul dan jenis koleksi, sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka. Beralamat di Jl. Kates, Siswodipuran, Boyolali. Kode pos 57316. Nomor Telp. (Via What’s App) :088-238-448-023 (Pak Rifan) 083-844489-640 (Pak Khanif) Silakan berkunjung ke perpustakaan!

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?